info@kelasinspirasibanten.org 0818948754 (Anna Rizky)

CERITA DARI KELAS INSPIRASI CILEGON


“Cuti sehari, seumur hidup menginspirasi.”

Sebuah slogan Kelas Inspirasi yang sungguh epic. Menggerakan banyak jiwa untuk hadir dan berbagi dengan siswa-siswa Sekolah Dasar di berbagai penjuru Indonesia.

Kelas Inspirasi Cilegon

Tak terkecuali aku. Aku tergerak untuk ikut berpartisipasi ketika Kelas Inspirasi hadir di Cilegon pada tanggal 28 Mei 2015. Meski sadar, siapalah aku. Mengenakan identitas sebagai travel writer, rasanya begitu lancang, sementara prestasi aku tak punya. Tetapi kucoba patahkan rasa malu. Tak harus menunggu sempurna untuk berbagi, kan?

Mengenalkan Profesi Travel Writer

Aku membawa beberapa buku panduan traveling, serta buku catatan perjalanan. Buku-buku itu yang akan kutunjukan kepada siswa-siswi SD, sebagai hasil kerja seorang travel writer. Di sekolah, aku meminjam sebuah bola dunia untuk memberi gambaran bahwa dunia ini luar dan menyenangkan untuk dijelajahi.

Aku kebagian jatah untuk mengajar di 5 kelas, kelas 1, 2, 4A, 4B, dan kelas 6. Di masing-masing kelas, aku diberi waktu 30 menit. Durasi yang sangat singkat, namun ternyata cukup menguras energi.

Kelas yang pertama kumasuki adalah kelas 6. Murid-muridnya antusias dan merespon dengan baik. Aku tak kesulitan menjelaskan kepada mereka tentang apa itu travel wtiter. 5 menit sebelum waktu habis, kuminta semua murid kelas 6 untuk menuliskan apa cita-citanya. Aku ingin tau, adakah yang kemudian ingin menjadi Travel Writer?

Dari semua jawaban yang kuterima dalam kertas kecil, hanya satu yang menulis ingin menjadi penulis. Kebanyakan sisanya, cita-cita yang mereka tulis adalah cita-cita standar, polisi, guru, dokter, bahkan artis.

Writing 1

Selanjutnya aku mengajar di kelas 1. Awalnya khawatir, takutnya aku tidak bisa nyambung dengan anak-anak yang rata-rata usianya baru 7 tahun. Tetapi ternyata mereka sangat komunikatif. Bahkan, mereka sudah cukup baik dalam menuliskan cerita pengalaman jalan-jalan. Berikut beberapa cerita perjalanan yqng ditulis oleh siswa-siswi kelas 1 SD N Blok.C Cilegon.

“Waktu saya hari minggu saya ke Anyer. Saya di Anyer berlomba. Saya juara 1. Saya hadiahnya tas boneka. Lalu saya berenang. Habis itu aku mandi. Aku makan dan habis itu aku mainan. Pas udh selesai aku pulang.” – Meylanza.

“Hari minggu aku ke Bali. Terus aku beli baju bali di sana. Terus aku beli sepatu mukena sendal. Di Bali aku foto-foto bersama keluarga. Aku senang sekali di Bali. Aku juga di sana beli bando.” –  Linda

“Saya pas hari Minggu ke Cikole sama ibu bapa nenek bibi. Saya kesananya pale mobil. Saya juga ngeliyat hewan-hewan dan foto-foto disananya sama bibi saya. Saya juga mandi disananya.” Nalia.

Mengajar di kelas 2, adalah pengalaman terberat. Saat masuk ke kelas 2, suasana rusuh. Ada seorang anak lelaki yang sedang ketakutan di bawah meja. Tubuhnya kaku memeluk kaki meja. Ia dihakimi teman-temannya karena menusuk tangan salah seorang siswi dengan ujung mata pensil. Teman-temannya yang lain hendak membawanya ke kantor untuk dilaporkan kepada guru. Anak lelaki itu tentu saja ketakutan.

Aku berusaha membujuk. Meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Tetapi, belum berhasil aku merayunya, di sudut lain di dalam kelas 2, terjadi lagi perkelahian antara 2 siswa laki-laki. Kepalaku semakin pusing. Aku merasa gagal, dan tak bisa menangani kekacauan di kelas. Akhirnya kupanggil guru wali kelas 2 untuk menenangkan suasana. Alhamdulillah, ibu guru wali kelasnya bisa menenangkan keadaan.

Kelas Inspirasi Cilegon 5

Pengalaman mengajar di kelas 4, menurutku adalah yang paling enjoy dibanding kelas-kelas lainnya. Siswa-siswinya sangat kooperatif dan bersemangat. Di kelas 4, aku mereview, bertanya kepada siswa-siswi, siapa saja kakak inspirator yang sudah mengajar di kelas mereka, apa profesinya, dan berapa banyak yang kemudian terinspirasi untuk menjadi seperti kakak-kakak relawan inspirator Kelas Inspirasi.

Hasilnya mengejutkan. Hampir semua murid ingin menjadi pramiwisata (travel guide). Alasannya sederhana, karena bisa jalan-jalan gratis, dan dibayar. Ini mempermudah bagiku untuk sekaligus mengenalkan apa itu Travel Writer.

Writing

Usai pengenalan soal Travel Writer, aku meminta mereka menuliskan cerita perjalanan yang pernah mereka alami. Aku kagum pada kemampuan menulis siswa-siswi di kelas 4 ini. Selain itu, tulisannya juga bagus-bagus dan rapi. Aku yakin, jika mereka mau menekuninya, suatu hari mereka bisa menjadi seorang penulis yang hebat.

Bukan Aku, Merekalah Inspiratornya

Sekitar jam 11 siang, kegiatan mengajar selesai. Acara ditutup dengan mengajak anak-anak untuk menuliskan cita-citanya pada selembar daun. Daun-daun itu terbuat dari kertas karton berwarna hijau, kemudian ditempel di pohon cita-cita.

Kami semua berharap, murid yang menuliskan cita-citanya, akan terus bersemangat untuk mewujudkannya. Seperti satu paragraf yang kubaca dalam sebuah email sebelum hari Inspirasi dalam program Kelas Inspirasi Cilegon. Begini isi emailnya;

IMG-20150527-WA0024

Email itu pasti melecut para relawan yang menjadi inspirator, untuk menginspirasi anak-anak Indonesia. Agar memiliki impian dan cita-cita, agar terjaga nyala api cita-citanya, dan mendorongnya untuk berusaha menjadikan impian itu nyata.

Tetapi ada satu hal lain yang kurasakan. Aku merasa, akulah yang terinspirasi oleh banyak hal yang kutemui di hari Kelas Inspirasi Cilegon ini. Dari siswa-siswi SD yang penuh semangat, dengan hasil tulisan cerita mereka yang bagus, aku mendapat semangat baru lagi untuk terus menulis. Jujur, aku malu saat beberapa anak bertanya, “Kak, bukunya Kak Nurul judulnya apa saja?”

Aku juga mendapat inspirasi baru dari para guru-guru, yang begitu sabar menghadapi segala perilaku anak-anak. Ah, aku yang hanya ditugasi Allah untuk mendidik beberapa anak di rumah saja, masih sering alpa, tidak sabaran, emosian. Aku yang baru sehari merasakan menjadi pengajar di SD saja sudah merasakam betapa energi terkuras. Bagaimama dengan mereka?

Inspirasi juga kudapat dari teman sesama relawan pengajar Kelas Inspirasi. Prestasi mereka, sifat rendah hati dan ketulusannya, membuatku berkaca lagi ke dalam diri. Ah, siapa lah aku! Mereka yang bisa saja bersifat sombong, justru sebaliknya. Tak tergambar aedikitpun rasa ingin disanjung dan dipuji atas apa yang telah mereka capai. Semoga, Kelas Inspirasi sebagai bagian dari program Indonesia Mengajar, yang menjadi dunia baru yang kumasuki ini, membawa berkah dan membawaku ke arah yang lebih positif. Aamiin…

Berbahagialah Anak-anak Indonesia

Entah apa yang dipikirkan oleh siswa-siswi SDN Blok.C Cilegon siang itu. Sebelum kami berpamitan, mereka merubung, meminta tanda tangan. Aku mencoba menemukan jawaban, apa pentingnya tanda tangan buat mereka?

Aku merasa kehilangan kepercayaan diri, lagi. Tetapi permintaan itu datang bertubi-tubi. Tak sanggup kutolak. Kuberikan tanda tanganku, meski tak tau apakah goresannya nanti akan bermanfaat buat mereka. Sampai akhirnya ketemukan ide. Aku bisa berbuat lebih dari sekedar memberi tanda tangan.

Kelas Inspirasi Cilegon 3

Kutulis sebuah pesan singkat untuk semua anak yang meminta tanda tanganku. Pesan sugesti positif dan pujian yang kutuliskan, semoga bisa memberi dampak yang baik bagi mereka.

Karena masa kecil yang bahagia, akan mengantarkan mereka kepada masa depan yang cemerlang.


Cerita dari Nurulnoehttp://nurulnoe.com/cerita-dari-kelas-inspirasi-cilegon/